Kamis, 27 Juni 2013

Karena Aku Cinta Baginda Nabi

Bercerita tentang perjuangan hidup seorang remaja, HAMID, dan keluarganya yang serba kekurangan namun selalu tabah dan sabar. Ia hidup bersama ayahnya seorang tukang mengambil sampah yang sakit-sakitan, ibu yang buta, dan dua adik perempuannya, IZZAH dan ALIYA. Dengan kejujuran dan keteguhannya meneladani akhlak Rasulullah Saw., Hamid dan adik-adiknya akhirnya menemukan balasan yang baik.
Hamid biasa membawa gerobak sampah mengambili sampah di rumah-rumah di kotanya. Di sebuah rumah mewah, Hamid menemukan buku-buku yang dibuang di tempat sampah. Ia sempat memastikan kepada satpam bahwa buku itu tidak salah buang. Ternyata memang dibuang, maka Hamid mengambilnya dan di bawa pulang untuknya dan adik-adiknya. Dari salah satu buku tersebut ternyata ada sebuah diary cantik yang Izzah langsung gunakan untuk menyalin puisi-puisi bikinannya.
Hamid dan adik-adinya harus menghadapi masa-masa susah. Ayahnya yang jatuh sakit, tidak ada biaya berobat, hutang ayahnya yang terus ditagih, rumah yang ditempati sudah lebih empat bulan belum dibayar sewanya hingga terancam untuk diusir. Akhirnya sakit sang ayah yang sesungguhnya tidak bisa disembunyikan setelah sang ayah muntah darah, dan setelah Ustadzh Mustofa, Gurun Ngaji Hamid, menengok dan memaksa membawa ayah Hamid ke rumah sakit. Maka diketahuilah penyakit Pak Rosid, ayah Hamid, sesungguhnya yaitu kanker paru-paru. Secara medis umur Pak Rosid tidak lama bertahan.
Pak Rosid, ayah Hamid akhirnya tak tertolong. Namun sebelum meninggal, sempat berwasiat, bahwa dulu ayahnya punya tanah 2000 meter yang dipinjam oleh temannya bernama Guntur Samaji untuk ikut pemilihan kepala desa. Janjinya segera dikembalikan. Ternyata Guntur Samaji kalah. Tidak jadi lurah. Dan tanah 2000 meter yang dipinjam Guntur tidak dikembalikan. Sampai akhirnya Guntur menghilang. Hingga Rosid dapat informasi bahwa Guntur kini jadi orang kaya di Bogor. Pak Rosid berwasiat agar Hamid mendatangi Guntur dan meminta tanah itu.
Akhirnya setelah ayahnya wafat, Hamid disertai ustadz Mustofa mendatangi rumah Guntur. Kedatangan Hamid yang minta pinjaman tanah dikembalikan, ditanggapi sinis oleh Guntur. Guntur bahkan mengatakan tidak kenal ayah Hamid. Atas prilaku Guntur, ibu Hamid, MARIYAM, meminta agar Hamid menyerahkan semuanya kepada Allah.
Hamid tak kenal lelah sekolah sambil mencari biaya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena kejujuran Hamid, ia ditawari menemani orang Jepang yang menginap di sebuah villa di puncak. Suatu hari, Orang Jepang itu dirampok dan nyaris mati kalau tidak karena jasa keberanian Hamid melawan perampok. Akhirnya orang Jepang itu selamat, Hamid dan adiknya mendapat hadiah berlimpah dari orang Jepang itu sekaligus beasiswa.
Hamid sangat bersyukur atas segala karunia yang ia dapatkan. HAMID selalu yakin bahwa semua kebaikan akan mendapatkan kebaikan. Dan semua kebaikan yang ia lakukan karena ia sangat mencintai Baginda Nabi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar